LASKAR CAHAYA TIMUR INDONESIA Mengucapkan Selamat " Hari Dharma Wanita Nasional" (5 Agustus 2021) Ketua Umum LCT-Indonesia DADANG KARTAWIJAYA ,Ketua DPD JABAR D.Soeryadarma,SM
Tampilkan postingan dengan label Cuaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuaca. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2021

Waspada,Diperkirakan Sore Hari Jaksel dan Jaktim Berpotensi Hujan Disertai Kilat dan Petir

Foto : Ilustrasi (Bj).

Red

JAKARTA MATANUSA-

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian wilayah DKI Jakarta akan diguyur hujan hari ini. Untuk itu diharapkan warga diminta waspada dengan perubahan cuaca yang terjadi.

"Waspada potensi hujan disertai kilat/petir di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada sore hari," tulis peringatan dini BMKG di laman resminya, Sabtu (24/7).

Untuk prakiraan cuaca siang hari, hujan ringan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur; berawan di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat; serta cerah berawan di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

Baca Juga : Cek Ketersediaan Obat dan Suplemen.

Pada malam hari, hujan ringan di Kepulauan Seribu; berawan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara; serta cerah berawan di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Sedangkan pada dini hari, seluruh wilayah DKI Jakarta cerah berawan.

Adapun untuk suhu udara hari ini di Jakarta antara 23-32 derajat celcius dengan kelembapan udara mencapai 55-95 persen.

B.Jakarta/Red

Print Friendly and PDF

BERITA INFORMASI RAKYAT

Share:

Senin, 10 Mei 2021

BMKG Prediksi Hari Ini Wilayah Jaksel dan Jaktim Diguyur Hujan

(Foto Bj)

Red/bjakarta.

JAKARTA MATANUSA -

Senin tanggal 10 Mei 2021,Prakiraan cuaca untuk sebagian wilayah untuk DKI Jakarta akan diguyur hujan ,untuk itu Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta kepada Warga jakarta tetap waspada dengan perubahan cuaca.

" Adapun untuk suhu udara hari ini di Jakarta, antara 24-34 derajat celcius dengan kelembapan udara 55-95 persen,"

Dikutip dari laman resmi BMKG, Senin (10/5), pada pagi hari, seluruh wilayah DKI Jakarta diprediksi cerah berawan. Pada siang hari, cerah berawan di Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Lalu berawan di Jakarta Pusat dan hujan ringan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.


Kemudian pada malam hari, cerah berawan di seluruh wilayah DKI Jakara. Sedangkan pada dini hari, cerah berawan di Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur serta cerah di Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

Adapun untuk suhu udara hari ini di Jakarta, antara 24-34 derajat celcius dengan kelembapan udara 55-95 persen.

Print Friendly and PDF

BERITA INFORMASI RAKYAT
Share:

Sabtu, 16 Januari 2021

Di Musim Penghujan ,BPBD Kota Sukabumi Himbau Masyarakat Tetap Waspada

SUKABUMI KOTA MATANUSA -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim penghujan pada bulan Januari hingga Februari 2021.

BACA JUGA : Tingkatkan Kewaspadaan BMKG Imbau.

Memasuki puncak musim penghujan, BMKG telah meminta daerah yang memiliki curah hujan tinggi untuk meningkatkan kewaspadaannya. Diantara daerah yang memiliki curah hujan tinggi adalah Pulau Jawa, Bali, Sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.

Adv.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Pemerintah Kota Sukabumi telah menetapkan status siaga darurat banjir dan tanah longsor sejak bulan November 2020 hingga Mei 2021.

BACA JUGA : Guna Pelayanan Bagi Masyarakat 30 Tenaga.

Sekaitan dengan hal tersebut, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Zulkarnain Barhami, dalam talkshow Radio Swara Perintis pada Kamis lalu, menghimbau masyarakat tetap waspada, dan melakukan langkah untuk meminimalisir potensi bencana.

Sumber : Diskominfo kota/Red 

Print Friendly and PDF


BERITA INFORMASI RAKYAT
Share:

Tingkatkan Kewaspadaan,BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Peningkatan Multi Risiko Bencana


NASIONAL MATANUSA -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi multi risiko baik dari aspek cuaca, iklim, gempa atau tsunami yang semakin meningkat terutama memasuki Januari, Februari, hingga Maret 2021.

“Sampai Maret masih ada potensi multi risiko, tapi untuk hidrometeorologi puncaknya pada Januari-Februari. Tapi seiring dengan itu, potensi kegempaan juga meningkat, mohon kewaspadaan masyarakat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Jumat (15/01/2021).

Sejak Oktober 2020, BMKG telah mengeluarkan informasi potensi bencana bersamaan dengan prakiraan musim hujan. Bahkan sejak awal Januari 2021, sejumlah daerah mengalami bencana banjir dan tanah longsor akibat peningkatan curah hujan.

Begitu pula dengan potensi kegempaan, gempa dengan kekuatan signifikan terjadi di sejumlah daerah, yang terbaru gempa dengan magnitudo 5,9 yang mengguncang Majene, Sulawesi Barat, pada Kamis (14/1/2021) pukul 13.35.49 WIB.

BACA JUGA : Guna Pelayanan Bagi Masyarakat 30 Tenaga.

Kemudian gempa tektonik dengan kekuatan yang lebih besar M6,2 terjadi pada Jumat (15/1/2021) dinihari pukul 01.28 WIB yang lebih mengguncang dan merusak.

“Episenter gempa kurang lebih sama terletak 6 kilometer arah timur laut Majene dengan pusat gempa 10 kilometer. Ini gempa dangkal yang tentunya karena magnitudonya sangat besar, guncangannya juga sangat dirasakan di permukaan,” ujar Dwikorita.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Mamuju. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Guncangan gempa bumi dirasakan di daerah Majene, Mamuju dengan skala  intensitas V-VI MMI (getaran dirasakan oleh semua penduduk, dan bersifat merusak), Palu, Mamuju Tengah, Mamuju Utara, dan Mamasa III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu). Dari skala intensitas guncangan tersebut dapat diperkirakan bahwa kerusakan terbesar terjadi di wilayah Mamuju.

Hingga pukul 23.00 WITA, BMKG mencatat terjadi 31 kali gempa bumi terdiri dari dua gempa signifikan dan 29 gempa susulan.

“Berdasarkan data kegempaan yang kami rekam dan historis gempa, kami menganalisis masih memungkinkan adanya gempa susulan yang cukup kuat seperti dini hari yang lalu atau bahkan lebih. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk menghindari bangunan dan gedung-gedung tinggi karena dikhawatirkan masih berpotensi gempa susulan,” katanya.

Karena masih adanya potensi gempa susulan yang cukup kuat, BMKG menurunkan tim di lapangan dan memasang alat untuk memonitor gempa-gempa susulan agar dapat memberikan estimasi kapan gempa-gempa susulan tersebut berakhir, serta untuk memetakan dampak kerusakan, sekaligus untuk menenangkan masyarakat melalui sosialisasi/literasi terkait kejadian gempa bumi ini, perkembangannya dan langkah kewaspadaan yang harus dilakukan.

Ia juga mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan potensi tsunami apabila terjadi gempa susulan yang  dapat memicu longsor di bawah laut, mengingat pelamparan sesar naik Mamuju yang menjadi sumber gempa berada di dasar laut sebelah barat Pantai Mamuju.

“Mengingat dalam beberapa hari/minggu ke depan masih berpotensi terjadi gempa-gempa susulan,  kami imbau masyarakat di daerah terdampak agar menjauhi atau tidak tinggal di  bangunan yang rentan atau sudah retak/miring akibat gempa sebelumnya, juga apabila kebetulan masyarakat yang berada di wilayah pantai merasakan guncangan gempa lagi, agar segera menjauhi pantai menuju ke tempat yang lebih tinggi, tidak perlu menunggu peringatan dini,” tegasnya.

Hal ini untuk mengantisipasi potensi tsunami seperti yang terjadi di Palu pada 2018,  di mana kejadian tsunami sangat cepat hanya 2-3 menit setelah gempa terjadi.

Ia juga mengingatkan masyarakat di sekitar pantai untuk segera menyiapkan jalur evakuasi dan membuat tempat evakuasi sementara di tempat yang lebih aman.

BACA JUGA : BPS Rilis Nlai Ekspor Indonesia Capai.

Gempa Berulang
Menurut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, episenter Gempa Majene 14-15 Januari 2021 sangat berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969 dengan kekuatan 6,9 pada kedalaman 13 km.

“Sebelumnya pernah terjadi gempa pada 1969 yang menimbulkan tsunami empat meter. Saat itu gempa menyebabkan 64 orang meninggal, 97 luka-luka dan 1.287 rumah serta masjid rusak,” jelas Bambang.

Hal senada diungkapkan Koordinator Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, bahwa gempa yang terjadi di Majene merupakan perulangan gempa pada 1969 karena dibangkitkan oleh sumber yang sama yaitu Sesar Naik Mamuju (Mamuju thrust). Namun saat itu pusat gempa berada di laut sehingga menimbulkan tsunami.

“Sesar Naik Mamuju ini sangat aktif. Dari sebaran gempa utama dan susulan yang terjadi sejak 14-15 Januari, ada tiga yang bisa kita kenali sumbernya dan memiliki kesamaan dengan gempa masa lalu,” tambah Daryono.

Berdasarkan data dan historis, telah terjadi tiga gempa dan tsunami merusak di sekitar Majene yaitu pada 11 April 1967 dengan magnitudo 6,3 di Polewali Mandar yang menimbulkan tsunami dan menyebabkan 13 orang meninggal.

Kemudian pada 23 Februari 1969 di Majene dengan magnitudo 6,9 menyebabkan 64 orang meninggal, 97 luka dan 1.287 rumah rusak di empat desa. Serta pada 8 Januari 1984 dengan magnitudo 6,7 di Mamuju namun tidak ada catatan korban jiwa tapi banyak rumah yang rusak.

Waspada Banjir
Selain peningkatan potensi kegempaan, saat ini juga sudah memasuki puncak musim hujan sehingga patut diwaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan.

“Januari-Februari memasuki puncak musim hujan karena itu perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi,” kata Dodo.

Berdasarkan data BMKG pada Dasarian III Januari 2021 terdapat daerah dengan potensi banjir menengah yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi tenggara, Maluku, dan Papua.

“Perlu diwaspadai potensi bencana banjir yang dalam waktu dekat kemungkinan terjadi,” kata Kepala Pusat Layanan Iklim Terapan Ardhasena Sopaheluwakan.

Deputi bidang Meteorologi Guswanto mengatakan, saat ini ada beberapa fenomena cuaca yang harus diwaspadai yaitu MJO (Madden Julian Oscillation) serta fenomena lokal, regional, dan global.

MJO saat ini teramati sedang aktif di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatra. Fenomena gelombang atmosfer (Kelvin Wave) diprakirakan cukup aktif di sebagian wilayah Indonesia bagian timur periode 14-17 Januari 2021.

Sedangkan Angin Monsun Asia mengalami penurunan intensitas dalam sepekan terakhir dan diperkirakan akan meningkat kembali dalam sepekan ke depan. Sementara suhu muka laut masih relatif hangat.

BMKG memprakirakan pada periode 16-21 Januari 2021 potensi hujan lebat dengan intensitas sedang-lebat terdapat di wilayah, Aceh, Sumatra Utara, Jambi, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Pada tujuh hari ke depan juga terdapat prospek pertumbuhan awan konvektif (Cumulonimbus) bercampur dengan awan konvektif lainya dengan tingkat kerapatan Occasional (OCNL) sekitar 50-75 persen di atas wilayah  Aceh dan Sumatra Utara, Samudra Hindia sebelah barat Sumatra, Sumatra Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, perairan selatan Pulau Jawa, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Laut Jawa. Perairan Selat Makassar, sebagian besar Sulawesi, Laut Sulawesi, Kepulauan Halmahera, dan Kepulauan Maluku.

Serta potensi pertumbuhan awan CB dengan tingkat kerapatan Frequent (FRQ) di atas 75 persen terjadi di atas wilayah Riau, Kepulauan Riau, perairan Natuna, Bangka Belitung, dan perairan utara Kepulauan Halmahera.

BACA JUGA : Nota Kesepahaman Bersama Pemerintah.

Prakiraan potensi pertumbuhan awan konvektif periode Desember 2020-Januari 2021 yang menghasilkan gangguan penerbangan berpotensi pada sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah hingga bagian timur.

Wilayah paling berpotensi pertumbuhan awan konvektif terbesar terjadi di sekitar wilayah NTB hingga NTT pada periode tersebut.

BMKG juga memprakirakan potensi gelombang tinggi periode 15 – 24 Januari 2021 yaitu dengan ketinggian 2.5 – 4.0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di Perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, Perairan selatan Pulau Jawa, Samudra Hindia barat Lampung hingga selatan NTB, Laut Natuna, Perairan Kepulauan Anambas, Perairan timur Kepulauan Bintan – Kepulauan Lingga, Laut Jawa bagian Timur, Selat Makassar bagian selatan, Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe – Kepulauan Talaud, Samudra Pasifik utara, Halmahera, hingga Papua.

Selanjutnya tinggi Gelombang 4.0 – 6.0 meter (Very Rough Sea) berpeluang terjadi di Perairan utara Kepulauan Natuna dan tinggi Gelombang lebih dari 6.0 meter (Extreme Sea) berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara.

Jadi untuk saat ini di dalam periode puncak musim hujan ini, masyarakat diimbau untuk tetap terus mewaspadai potensi multi-bencana hidrometeorologi, gempa bumi, dan tsunami. 

Sumber : (HUMAS BMKG/UN) 

Print Friendly and PDF


BERITA INFORMASI RAKYAT
Share:

Minggu, 06 Desember 2020

BMKG: Prakiraan Cuaca Sukabumi di Guyur Hujan Dari Pagi Hingga Sore Hari

Ilustrasi Hujan**

SUKABUMI MATANUSA -

Hujan yang mengguyur wilayah sebagaian Jawa Barat,dan salah satunya adalaha wilayah sukabumi dari pagi diguyur hujan,Minggu (6/12/20).menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca sebagian besar wilayah di Jawa Barat diguyur hujan dengan intensitas ringan dari pagi hingga sore hari.

BACA JUGA : Menko Polhukam Ingatkan Paslon Tetap.

Ramalan cuaca pada pagi hari hingga menjelang sore hari untuk wilayah Sukabumi diprediksi akan terus terjadi hujan dengan intensitas ringan, diperkirakan suhu rata-rata mencapai 22°C dengan kelembapan 65% , dengan kecepatan angin rata-rata 10 sampai 20 km/jam berhembus kearah barat.

BACA JUGA:Di Tengah Suasana Kondisional.

Sedangkan pada malam hari, cuaca di wilayah Sukabumi dan sekitarnya menurut BMKG akan kembali berawan dengan suhu 21°C dan kelembapan berkisar 95%. Sampai menjelang tengah malam cuaca tetap berawan dengan kecepatan angin 10 km/jam kearah barat laut.

adv.

SUMBER : BMKG

RED

Print Friendly and PDF


REDAKSIONAl
Share:

Minggu, 18 Oktober 2020

BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat Sepekan Mendatang

 

JAKARTA MATANUSA -

Berdasarkan laporan Kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Dwikorita Karnawati dalam Rapat Terbatas mengenai Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, beberapa waktu lalu, fenomena La Nina yang terjadi di Pasifik diprediksi akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi sebesar 20-40 persen di atas normal jumlah curah hujan bulanan di Indonesia.

Dalam rilis yang disampaikan BMKG, Sabtu (17/10), dijelaskan bahwa La Nina yang terjadi pada periode awal musim hujan ini berpotensi meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah. “Dampak La Nina terhadap curah hujan di Indonesia tidak seragam, baik secara spasial maupun temporal, bergantung pada: musim/bulan, wilayah, dan kekuatan La Nina sendiri,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

Baca Juga: Cegah Cluster Baru Damkar Sukabumi.

Selain pengaruh sirkulasi angin monsun dan anomali iklim di Samudra Pasifik, tuturnya, penguatan curah hujan di Indonesia juga turut dipengaruhi oleh penjalaran gelombang atmosfer ekuator dari barat ke timur berupa gelombang MJO (Madden Julian Oscillation) dan Kelvin, atau dari timur ke barat berupa gelombang Rossby. “Hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya aktivitas MJO di atas wilayah Indonesia, yang merupakan kluster/kumpulan awan berpotensi hujan,” ujarnya.

Aktifitas  La Nina dan MJO pada saat yang bersamaan ini, ujarnya, dapat berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. “Berdasarkan kondisi tersebut di atas, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan akan terjadi peningkatan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang,” ujar Guwsanto.

Adv.

Diungkapkannya, untuk periode 18 – 24 Oktober 2020 curah hujan dengan intensitas lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Ini juga berpotensi terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Guswanto menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin. Masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, lanjutnya, dapat mengakses layanan informasi cuaca 24 jam melalui website maupun media sosial dan aplikasi yang dimiliki BMKG.

Sumber : (HUMAS BMKG/UN)

Print Friendly and PDF


REDAKSIONAl
Share:

Jumat, 02 Oktober 2020

2 Oktober,Siang Dan malam Hari Sebagian Jakarta Diprediksi Hujan

Foto : Bj

JAKARTA MATANUSA -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, wilayah DKI Jakarta akan diguyur hujan pada siang dan malam hari. Warga diminta waspada perubahan cuaca. 

Baca Juga : Peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

"Pagi hari cerah berawan, "

"Pagi hari cerah berawan," kata Achmad Taufan Maulana Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, Jumat (2/10).

Lanjutnya,dikatakan Taufan, siang hari hujan sedang disertai petir terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Pusat Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan hujan sedang di Jakarta Utara.

"Malam hari hujan ringan di Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Dini hari berawan," ujarnya.

Baca Juga : Sambut HUT TNI Ke 75 Yon Armed 13.

Taufan menyebutkan, suhu udara di DKI hari ini berkisar antara 24 hingga 32 derajat celcius, kelembaban udara 65 sampai 95 persen dan kecepatan angin Tenggara - Selatan lima hingga 25 kilometer per jam.

Sumber : Bj/RH/Red

Print Friendly and PDF


REDAKSIONAL


Share:

Minggu, 27 September 2020

BMKG: 3 Hari Ke Depan Potensi Hujan Lebat

Citra Satelit Kondisi Indonesia pada hari Minggu (27/9). (Sumber: BMKG).

JAKARTA MATANUSA -

Wilayah Indonesia saat ini masih terpantau aktivitas dua Gelombang Atmosfer, yaitu: Rossby Ekuatorial dan Madden Jullian Oscillation.

Rossby Ekuatorial merupakan fenomena pergerakan sistem konvektifitas udara di atmosfer yang berpropagasi ke arah barat dan melewati wilayah Indonesia) sedangkan Madden Jullian Oscillation adalah enomena pergerakan sistem konvektifitas udara di atmosfer yang berpropagasi ke arah timur dan melewati wilayah Indonesia.

Baca Juga :Jaga Ekosistem Sungai Pemuda Ansor.

“Hal ini memberikan kontribusi pada peningkatan massa udara basah yang mendukung terbentuknya awan-awan hujan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto melalui rilis, Minggu (27/9).

Kondisi tersebut diperkuat dengan anomali hangat suhu muka laut di perairan Indonesia, terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin (konvergensi) yang memanjang di Pesisir Barat Sumatera, Selat Karimata, sebagian Pulau Jawa, Selat Makassar dan Laut Banda, dan didukung dengan kondisi atmosfer yang hangat dan lembab di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan analisis beberapa fenomena atmosfer di atas, BMKG memprediksikan dalam periode tiga hari ke depan, hujan dengan INTENSITAS SEDANG-LEBAT yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah sebagai berikut:

Periode 27-29 September 2020, sebagai berikut:
– Aceh,
– Sumatra Utara,
– Sumatra Barat,
– Bengkulu,
– Lampung,
– Banten,
– DKI Jakarta (potensi pada tanggal 27 September)
– Jawa Barat,
– Jawa Tengah,
– Kalimantan Barat,
– Kalimantan Tengah,
– Kalimantan Timur,
– Kalimantan Utara,
– Sulawesi Utara,
– Gorontalo,
– Sulawesi Tengah,
– Sulawesi Barat,
– Sulawesi Selatan,
– Maluku,
– Maluku Utara,
– Papua Barat, dan
– Papua.

Khusus untuk wilayah Jabodetabek, menurut Guswanto, konsentrasi hujan intensitas sedang-lebat masih cukup potensial di wilayah Bogor terutama pada siang/sore hari, sedangkan untuk wilayah DKI Jakarta kondisi cuaca signifikan tgl 27 September pada siang/sore hari dengan kondisi relatif menurun untuk 2 hari ke depan (28-29 September 2020).

Baca Juga:Peduli Sosial Korban Banjir PT Panen Mas Agung.

Masyarakat, lanjut Guswanto, diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

Kondisi tersebut di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan dinamika atmosfer di Indonesia, BMKG tetap terus memonitor dan melakukan update perkembangannya,” pungkas Deputi Bidang Meteorologi.

Sumber :(BMKG/EN)/Red.

Print Friendly and PDF


REDAKSIONAL
Share:

Advertorial

Advertorial